6 Pondok Pesantren Ikut KEELAR, Targetkan Panen Porang Ratusan Juta

6 Pondok Pesantren Ikut KEELAR, Targetkan Panen Porang Ratusan Juta
6 Pondok Pesantren Ikut KEELAR, Targetkan Panen Porang Ratusan Juta

Setelah penandatanganan MoU antara UPZ BAZNAS Pemprov Banten dan FSPP Provinsi Banten, konsep pemberdayaan masyarakat yang disebut Konsep Pemberdayaan Empat Pilar (KEELAR) mulai digulirkan.  Pada tahap pertama terpilih 6 pondok pesantren dan 12 mustahik yang akan bergabung dalam program ini.  Keenam Pondok Pesantren itu adalah :

  1. Pondok Pesantren Daarussalam Pimpinan KH. Jawari yang beralamat di Kp. Cikentang Kelurahan Sayar  Kec. Taktakan  Kota Serang dengan rencana luas tanaman porang 2 Ha
  2. Pondok pesantren At-Taqwa Jl. HM, Muslih No 1 Cikulur Baru Serang Banten Pimpinan Ir. H. M. Ali Musthofa, dengan luas tanaman 0,5 Ha
  3. Pondok Pesantren Manahijussadat Kp. Sadang Ds. Pasar Keong Kec. Cibadak Kab, Lebak Banten Pimpinan KH. Sulaiman Effendi dengan luas 1 Ha
  4. Pondok pesantren Darussalam Kp. Mnadalawangi Kec. Mandalawangi Kab. Pandeglang Banten Pimpinan KH. Abdul Wahid dengan luas 0,2 Ha
  5. Pondok pesantren Sulhas Jl. Raya Muncang Km. 5 Ds. Margawangi Kec. Leuwidamar Kab. Lebak Banten Pimpinan KH. Zainudin Amir dengan luas 1 Ha
  6. Pondok Pesantren Al-Husna Jl. Raya Karang Bolong Kec. Anyar Kab. Serang Banten Pimpinan KH. Ikhwan dengan luas 0,3 Ha

 

Bantuan dari UPZ BAZNAS Pemprov Banten akan dibelikan benih katak porang sebanyak 200 Kg.  Jika rata-rata setiap kilogram berisi 150 butir benih katak, maka akan diperoleh sebanyak 30.000 benih.  Potensi penghasilan yang bisa diperoleh dari 30.000 benih tersebut adalah, pada tahun pertama berpotensi untuk menghasilkan panen katak sebanyak 375 Kg dengan potensi nilai jual mencapai Rp 93.750.000.  Tetapi katak ini tidak dijual tapi dikembalikan ke pengelola sebagai pengganti sarana produksi yang dikeluarkan.  Apabila ada kelebihan, maka kelebihannya digunakan untuk mengembangkan KEELAR dengan mustahik yang baru dan pondok pesantren yang baru. 

 

Pada tahun kedua berpotensi menghasilkan penen katak 375 kg dan potensi panen umbi produksi sebanyak 60 ton, dengan asumsi panen perbatang sebanyak 2 Kg.  Jika harga jual umbi produksi  perkilonya Rp 10.000, maka terdapat potensi pendapatan sebesar 600.000.000.  Katak pada tahun kedua juga tidak dijual tapi dikembalikan ke pengelola sebagai pengembalian modal milik mustahik dan pengganti sarana produksi yang dikeluarkan pengelola.  Apabila ada kelebihan, maka kelebihannya digunakan untuk mengembangkan KEELAR dengan mustahik yang baru dan pondok pesantren yang baru. 

 

Potensi pendapatan tersebut dapat terwujud, tentu saja dengan syarat kondisi tanaman tumbuh optimal terpenuhi dan mengasumsikan tanaman tumbuh bagus semuanya.  Tapi jika pun hanya berasumsi 70 %  saja tanaman yang bagus,  maka masih terdapat potensi pendapatan dari umbi produksi yang masih cukup besar yaitu mencapai Rp 420.000.000.  Sebuah potensi pendapatan yang cukup menggembirakan.  Selanjutnya sesuai akad bagi hasil, potensi pendapatan tersebut akan dibagi 3, untuk Pengelola (FSPP) 20 % atau berpotensi mendapat Rp 84.000.000, mustahik sebesar 40 % atau berpotensi mendapat  Rp 168.000.000 dan pondok pesantren sebesar 40 % atau berpotensi mendapat Rp 168.000.000.  Semoga potensi pendapatan tersebut dapat mewujud jadi kenyataan, sehingga akan banyak masyarakat yang berhasil KEELAR dari ketidakberdayaan.

 

Potensi pendapatan hasil perhitungan diatas kertas tersebut akan terwujud dengan syarat, para pihak yang terlibat dalam program ini benar-benar bekerja keras dengan sungguh-sungguh dan menerapkan teori dengan setepat-tepatnya.  Sebaliknya potensi tersebut hanya akan menjadi isapan jempol belaka jika salah dalam menerapkan teori atau dikerjakan dengan asal-asalan.  Semoga Allah memberikan jalan bagi ikhtiar kita semua dalam mencari keberkahan…