UPZ BAZNAS Pemprov Banten dan FSPP, Kembangkan Pemberdayaan Mustahik Melalui Budidaya Porang

UPZ BAZNAS Pemprov Banten dan FSPP, Kembangkan Pemberdayaan Mustahik Melalui Budidaya Porang

Bertempat di ruang rapat LPTQ Masjid Raya Albanti di KP3B Serang, pada tanggal 4 September 2020, Plt. Kepala Biro Kesra Provinsi Banten bertindak selaku Ketua UPZ,  H. Toton Suriawinata, M.Si dan Sekretaris FSPP Provinsi Banten DR. H. Fadlullah, M.Si, melakukan penandatanganan perjanjian Kerjasama Pemberdayaan Masyarakat Melalui Budidaya Pertanian.  Sekretaris UPZ BAZNAS Pemprov Banten, Irwan Setiawan menerangkan, bahwa budidaya usaha tani ini dilakukan dengan melibatkan empat pilar yaitu UPZ BAZNAS Pemprov Banten sebagai pencari dana, FSPP Provinsi Banten sebagai pengelola, Pondok Pesantren sebagai pemilik lahan dan mustahik sebagai subjek yang diberdayakan.  Sumber dana pembiayaan program ini berasal dari dana zakat ASN Pemprov Banten untuk Program Ekonomi pada Kategori Mustahik miskin sebesar 50 juta rupiah dengan rencana lahan budidaya seluas 5 hektar yang terdapat di 6 pondok pesantren dan melibatkan 12 orang mustahik . 

 

Adapun mustahik miskin yang dipilih berasal dari lingkungan pondok pesantren sekaligus berkaitan dengan upaya pemberdayaan pondok pesantren.  Dalam kesempatan tersebut H. Ali Sekretaris Dewan Pertimbangan FSPP Provinsi Banten, menambahkan bahwa di pesantren masih terdapat santri-santri dari keluarga miskin dan juga ustad yang mengabdi sebagai pengajar yang belum mempunyai honor tetap dan selama ini kesehariannya bergantung kepada para kyai pengasuh pondok pesantren.  Dengan kegiatan usaha tani budidaya porang ini diharapkan akan diperoleh penghasilan dari panen katak porang, umbi bibit maupun umbi produksi yang penghasilannya akan dibagi dengan akad perjanjian bagi hasil antara FSPP, Pondok pesantren dan para mustahik dengan pola bagi hasil 20:40:40.

 

Pemilihan porang sebagai komoditas dalam program pemberdayaan ini, berdasarkan pertimbangan teknis budidaya porang yang tidak terlalu rumit sehingga bisa cepat diajarkan pada para santri di pondok, juga prospek porang sebagai komoditas ekspor dan sumber karbohidrat masa depan yang menjanjikan.  Harga porang saat ini sangat menguntungkan dan terus naik dari tahun ketahun.  Bahkan pabrik pengolahan porang untuk ekspor seakan berebut bahan baku untuk memenuhi kapasitas produksinya.  Porang sangat potensial dikembangkan karena kegunaannya yang penting.  Porang bisa menjadi sumber karbohidrat masa depan yang sehat untuk diet dan penderita diabetes, bahan mie dan makanan, bahan obat, bahkan bisa menjadi sumber  bahan baku untuk industri pesawat terbang.  Sehingga tidak heran jika porang diburu oleh pasar dunia dan menjadi komoditas eksport yang bernilai tinggi.   

 

Porang juga memiliki keunikan bisa ditanam dibawah tegakan pohon. Sehingga jika ditanam di kawasan hutan, di bawah pohon kayu-kayuan, secara bersamaan kebutuhan pokok pangan dan papan dapat diamankan.  Apalagi jika dibudidayakan intensif di areal terbuka, produktifitas porang per hektar bisa bersaing dengan padi.  Kedepan dengan budaya makanan sehat yang makin berkembang, masyarakat bukan tidak mungkin akan lambat laun mensubstitusi sumber karbohidratnya dari beras padi ke beras porang yang lebih sehat.  Jika itu bisa dilakukan maka kebutuhan beras nasional yang besar, yang mengharuskan Indonesia terus mengimpor serta menggerus devisa, dari tahun ke tahun, impor beras pun dapat semakin dikurangi.  Akan terjadilah saat dimana hutan semakin lestari, karena masyarakat tidak lagi membuka lahan dengan land clearing untuk memenuhi kebutuhan karbohirat.  Dari segi Kesehatan pun masyarakat menjadi semakin sehat dengan sumber karbohidrat anti diabet.  Pada sisi ekonomi pun, dengan nilai jual porang tinggi, baik lokal maupun ekspor, ekonomi masyarakat khususnya petani akan semakin meningkat.  Bahkan industri pun akan berkembang dengan berdirinya pabrik-pabrik pengolahan porang dan berbagai produk turunannya.  

 

Semoga harapan Indonesia memiliki komoditas unggulan pertanian yang multi fungsi dari aspek lingkungan, kesehatan dan ekonomi, akan menemukan jalannya dengan porang.